Home » Posts tagged "SIM"

Seijin no hi

Tahun 2013 Seijin no hi di kawasan Tokyomungkin menjadi seijin no hi yang tak terlupakan karena diselimuti badai saljusumber (daily mail)Seijin no hi (成人の日) yang kalau diterjemahkan secara langsung "hari kedewasaan", adalah hari libur resmi di Jepang yang jatuh pada hari Senin minggu kedua di bulan Januari. Hari libur ini dimaksudkan untuk merayakan generasi muda yang bisa hidup mandiri dan menyadari telah menjadi dewasa (genap berumur 20 tahun). Bisa disimpulkan bagi orang Jepang sebelum umur 20 tahun itu belum dewasa (anak-anak).Perayaan ini berasal dari upacara keagamaan Shinto, yang disebut Genpuku. Pada upacara Genpuku anak laki-laki yang berusia 10 - 16 tahun yang berasal dari keluarga Samurai menerima Eboshi (sejenis ikat kepala) sebagai tanda resmi yang menandakan kedewasaan mereka. Versi lain dari Genpuku adalah Kanrei yaitu, dimana anak laki-laki yang berasal dari keluarga kerajaan mendapatkan Fundoshi (kain cawat yang digunakan pe-Sumo sekarang) sebagai tanda kedewasaan mereka.Jaman dahulu, anak perempuan yang berusia 12 - 16 tahun sudah dikatakan dewasa dan bisa menikah. Upacara kedewasaan untuk perempuan pada waktu itu dinamakan Mogi, dimana anak perempuan mendapatkan kimono sebagai tanda kedewasaan mereka.Sekitar abad ke-19, perayaan Genpuku dan Kanrei tidak terlalu sering dilakukan. Ini akibat dari perubahan struktur dari pemerintahan. Pada tahun 1876, orang Jepang dikatakan dewasa saat menginjak usia 20 tahun, namun saat itu perayaan kedewasaan belum dilakukan secara formal.Upacara Seinensei (青年祭 perayaan generasi muda), yang diselenggarakan 22 November 1946 di Propinsi Saitama merupakan asal-usul "seijin no hi" seperti yang ada sekarang ini. Pada mulanya, upacara diadakan untuk memberi harapan masa depan yang cerah bagi generasi muda Jepang yang kehilangan semangat dan cita-cita akibat Perang Dunia II.Sejak ditetapkan dari tahun 1948 hingga tahun 1999, perayaan kedewasaan ini, dirayakan setiap tanggal 15 Januari bertepatan dengan tahun baru kecil untuk meneruskan tradisi Genpuku yang diadakan selalu pada tanggal yang sama. Tetapi sejak tahun 2000, hari kedewasaan dipindah ke hari Senin minggu kedua di bulan Januari sesuai sistem "Happy Monday" yang memindahkan sebagian hari libur ke hari Senin agar libur akhir pekan bertambah panjang.Upacara yang diadakan untuk hari kedewasaan ini disebut seijin shiki (成人式), yang diadakan pemerintah lokal kota dan desa di Jepang yang mengundang penduduk yang telah mencapai usia 20 tahun yang dianggap dewasa menurut hukum untuk boleh merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, dan mengikuti pemilihan umum. Acara pada umumnya diadakan di gedung pertemuan, ballroom hotel, atau aula serbaguna milik pemerintah lokal. Acara dimeriahkan dengan pidato, penerimaan cendera mata, jamuan makan dan foto bersama dengan pejabat lokal.Peserta upacara adalah penduduk yang merayakan ulang tahun ke-20 sehari sesudah upacara tahun lalu hingga hari upacara dilangsungkan. Selain itu, sebagian pemerintah lokal juga mengundang penduduk yang berulang tahun ke-20 pada tanggal 2 April tahun lalu hingga 1 April tahun ini (mengikuti perhitungan umur yang digunakan sekolah di Jepang, karena awal tahun ajaran baru pada bulan April di Jepang).Di acara seijin shiki pada umumnya wanita mengenakan kimono resmi berlengan panjang yang disebut furisode, karena kesukaran pemakaian kimono bila dilakukan sendirian menyebabkan para wanita muda mengunjungi salon kecantikan untuk dipakaikan kimono dan dirias. Untuk pria mengenakan setelan kimono yang disebut hakama. Meskipun demikian, pria sering juga mengenakan pakaian formal ala barat berupa jas lengkap dengan dasinya. Setelah upacara selesai, mereka merayakan dengan berpesta, terutama minum minuman beralkohol.Hakamasumber travel 67Furisode yang dikenakan KPPHakama dan FurisodeSedikit berbeda dengan Indonesia memang, yang menganggap dewasa secara hukum saat berumur 17 tahun (sudah dapat membuat KTP, SIM, ikut Pemilu dll).Ada seorang teman saya yang bertanya, "Jadi pada waktu umur 20 orang Jepang baru bisa bikin KTP ya?"Sebenarnya KTP di Jepang itu tidak ada. SIM dan nomor asuransi kesehatan lah yang menjadi identitas diri yang selalu dibawa oleh orang Jepang. Semua bukti kependudukan (juminhyou) orang Jepang berada pada Kantor Catatan Sipil (shiyakusho).Sekian info dari saya mengenai seijin no hi, semoga bermanfaat.Referensi :http://en.wikipedia.org/wiki/Coming_of_Age_Dayhttp://id.wikipedia.org/wiki/Seijin_shikihttp://shinjusby-japanculture.blogspot.jp/2011/01/hari-kedewasaan-seijin-no-hi.html

Continue reading »

Memiliki mobil pribadi di Jepang

Jakarta populasi 10.000.000 orang memiliki 5.300.000 mobil pribadi.Tokyo populasi 13.000.000 orang hanya memiliki 3.100.000 mobil pribadi.Saya akan share tentang pengeluaran memiliki mobil di Jepang.Sebelum memiliki mobil kita harus memiliki SIM, di Jepang untuk memiliki SIM membutuhkan biaya 300.000 yen (untuk sekolah dan ujian mengemudi), biaya berbeda bagi orang asing yang mengambil sistem kirikae.Biaya bulanan memiliki mobil.. (dalam hal ini pengalaman saya)Asuransi mobil 10.000 yen/bulanParkir (karena saya tinggal di desa) 3500 yen/bulan, untuk yang tinggal di kota besar (Tokyo, Osaka), saya pernah dengar biaya parkir perbulan di Shinjuku sebesar 60.000 yen/bulan (ya, parkir dan apartment beda, dibayar terpisah dan harga parkir di kota besar hampir sama dengan biaya apartment).Melanggar lampu merah saja, saya kena tilang dan denda sebesar 9000 yen plus point SIM saya diambil 2.Tentu saja kalau punya mobil harus diisi dengan bensin, 155 yen/liter (sebulan saya habis 10.000 yen untuk bensin saja).Bisa jumlahkan biaya perbulan memiliki mobil?Ini belum Pajak mobil pertahun untuk plat putih sekitar 30.000 yen.dan Shaken (Uji Emisi) per 2 atau 3 tahun untuk plat putih sekitar 150.000 yen.Memang harga BBM hampir sama seperti membeli jus kaleng di vending machine, tapi biaya memiliki sebuah mobil di Jepang sangat mahal dan sebuah kemewahan tersendiri.Mobil di Jepang lebih banyak digunakan di desa yang sangat minim transportasi publik. Tinggal di Tokyo beli mobil?? Pikir 2 kali deh..Jakarta populasi 10.000.000 orang memiliki 5.300.000 mobil pribadi.Tokyo populasi 13.000.000 orang hanya memiliki 3.100.000 mobil pribadi.Mengapa di Jakarta yang penduduknya lebih sedikit dari Tokyo bisa mempunyai mobil lebih banyak daripada Tokyo??Mungkin orang Jepang akan bilang, orang Jakarta lebih kaya daripada orang Tokyo tapi kok masih beli bensin bersubsidi ya?Apakah di Jakarta mobil sama dengan gengsi??Kalau ga punya mobil ga bisa kerja dan bergaul?Di Tokyo orang kerja pakai jas rapi saja naik sepeda onthel.Artis saja lebih banyak yang naik transportasi publik (taksi/kereta).Harga BBM di Indonesia memang naik, tapi bersyukurlah masih di subsidi oleh pemerintah. Jangan mengeluh, tapi bersyukur masih bisa makan nasi dan diberi hidup oleh yang Maha Kuasa pada hari ini.Berpalinglah ke transportasi publik atau sepeda untuk mengurangi kemacetan. GO GREENUntuk Indonesia menjadi lebih baik.

Continue reading »

Budaya Bersepeda di Jepang

Sepeda merupakan alat transportasi yang murah meriah di Jepang, bahkan jumlah sepeda lebih banyak dari jumlah mobil dan sepeda motor pribadi.Selain berjalan kaki, siswa sekolah juga banyak yang ke sekolah menggunakan sepeda. TIDAK ADA siswa sekolah (SD, SMP dan SMA) yang bawa sepeda motor apalagi mobil.Hal itu sangat dilarang keras oleh pihak sekolah, meskipun untuk membuat SIM sepeda motor 50 cc atau yang disebut Gentsuki persyaratannya minimal usia 17 tahun (Prefektur Gifu). Bahkan ada pihak sekolah yang mengeluarkan siswanya bila memiliki SIM sepeda motor 50cc sebelum lulus SMA (kebetulan teman kerja saya ada yang berumur 17 tahun yang dikeluarkan dari sekolah gara-gara ketahuan punya SIM sepeda motor).Mengapa pihak sekolah disiplin sekali dilarang bawa sepeda motor bahkan SIM motor 50cc, padahal 17 tahun sudah bisa bikin SIM??Pihak sekolah bertujuan mengajarkan moral kebersamaan, tidak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin, disiplin fisik dan kerja keras untuk menuntut ilmu atau mimpi.Sangat berbanding balik dengan negeri kita tercinta memang, dimana SMA sudah banyak yang bawa mobil dan sepeda motor. Bahkan anak masih SMP saja tidak punya SIM berani bawa mobil masuk jalan tol, nabrak, dan akhirnya kecelakaan membuat orang meninggal (if you know what I mean).Saya tidak tahu apa itu salah orang tuanya, atau sekolah atau budayanya??Yang jadi pertanyaan saya,Mengapa orang Indonesia banyak sekali yang malas naik sepeda? Transportasi yang sangat sehat dan murah meriah..Tapi kalau sepeda motor dan mobil wajib punya, maksain beli meskipun tidak punya uang cukup, kredit saja. kalau ga bisa ngelunasin kreditnya kan bisa dibalikkin mobil/sepeda motornya.Begitu BBM naik, protes.. Nah lho, bisa beli mobil/sepeda motor tapi ga bisa beli BBM??Balikin saja motornya ke dealer deh...Ada alasan lagi yang populer, "Indonesia panas, ga kaya Jepang sejuk dan dingin".Belum tahu ya? Atau ga mau tahu?Kalau di Jepang musim panas lebih panas dari Indonesia (bisa mencapai 40 derajat Celsius) dan kalau musim dingin bisa minus..Tapi mereka tetap saja tidak mengeluh karena panas dan dingin, yah itulah mental orang Jepang yang dibentuk sejak lahir disiplin, kerja keras, dan tidak pernah mengeluh.Tahun 1945, Indonesia merdeka, disaat itu juga Jepang di bom atom. Sama-sama mulai dari 0.69 tahun kemudian... Perbedaan antara kedua negara bagaikan bumi dan langit.. :(Bukan karena pemerintahnya, tapi karena mental rakyatnya yang membuat Jepang menjadi bangsa maju.Yuk belajar dari Jepang.Budayakan bersepeda, selain hemat juga baik untuk kesehatan.. :))BBM naik? No problem masih ada sepeda dan transportasi umum lainnya.Bagi yang belum bekerja yuk naik sepeda supaya bisa hemat dan tidak membebani orang tua.Semoga Indonesia menjadi lebih baik..

Continue reading »

Tilang di Jepang

Surat tilang tampak depanSaya akan menceritakan pengalaman saya melanggar lalu lintas kemudian di tilang di Jepang. Kejadian ini sebenarnya terjadi bulan November 2014. Saat itu saya berangkat kerja menggunakan kendaraan roda 4, karena saya masuk malam jadi sekitar jam 16.00 saya berangkat dari rumah saya menuju ke tempat kerja saya yang berada di Mizuho shi Gifu ken.Melewati jalan rute 21, saya melanggar lampu lalu lintas yang saat itu telah berubah dari warna kuning ke merah. Alhasil dari arah belakang ada mobil polisi atau biasa disebut orang Jepang "Pato kaa" (singkatan dari Patroli Car), mengejar dan menghampiri saya serta menyuruh saya ke pinggir jalan."Sial" pikir saya, ya apa boleh buat.Polisi dengan sopan berbicara pada saya, dan meminta untuk menunjukkan SIM saya.Karena saya bukan orang Jepang, saya mengeluarkan SIM dan Residence Card saya.Polisi cukup terkejut, karena dia mengira saya orang Jepang.Kemudian saya berkata, "Pak maaf, saya buru-buru neh, mau kerja"."Oh begitu, baiklah saya akan secepatnya melakukan prosesnya".Sumpret, saya bilang begitu supaya dibebasin, ternyata..... Argggggg...Proses memang cepat, mungkin sekitar 5 menit.Surat tilang tampak belakangSaya kena kasus melanggar lampu merah atau orang Jepang bilang 信吾無視 (Shingo mushi), kena denda sebesar 9000 yen serta poin SIM saya yang awalnya 0 bertambah jadi 2 poin,Sekedar informasi, bila melanggar lalu lintas di Jepang selain kena denda atau hukuman penjara juga menerima poin.Bila poin terkumpul lebih dari 5 poin dalam jangka waktu 3 tahun maka SIM bisa ditidak berlakukan selama waktu tertentu atau biasa disebut 停止/teishi (bisa 30 hari, 60 hari, 90 hari tergantung pelanggaran yang dilakukan), bisa juga SIM dicabut dan tidak diberlakukan atau biasa disebut 取り消し(tori keshi).Jumlah poin SIM Teishi dan TorikeshiHukuman paling berat adalah mengemudi sambil mabuk, hukumannya masuk penjara, denda dan SIM dicabut serta tidak diberlakukan atau biasa disebut 取り消し(tori keshi).Tidak memiliki SIM tapi mengendarai kendaraan, hukumannya masuk penjara dan denda.Info lebih lengkapnya bisa dibaca di sini.Kembali ke kasus saya.Pembayaran denda dilakukan di bank terdekat, jadi denda tidak dibayar pada waktu kena tilang seperti di Indonesia.Aduh sayang banget, uang 9000 yen (sekitar Rp. 900 ribu) melayang percuma.Yah itulah pengalaman saya ditilang di Jepang.Semoga sahabat KdJ tidak mengalaminya ya.Taatilah rambu-rambu lalu lintas

Continue reading »