Home » Posts tagged "Orang Jepang"

Ofuro

Kali ini saya akan membahas tentang ofuro (お風呂), adalah aktifitas mandi berendam di bak mandi atau kolam dengan air yang bersuhu sekitar 40 derajat celcius (mandi ala Jepang), yang terdiri dari 2 macam yaitu : Public Ofuro (Pemandian Umum) dan Private Ofuro (kamar mandi di rumah).Tidak seperti di negara kita, kamar mandi dan toilet di Jepang dipisah ruangannya dan selalu kering.Tradisional Private Ofuro (sumber wikipedia)Etika mandi di rumah :Sebelum masuk ke bak mandi, badan harus diguyur dengan menggunakan shower air panas dan dibersihkan dengan sabun cair yang terlebih dahulu di tuangkan di bak kecil dan dicampur dengan sedikit air kemudian digosokkan ke badan dengan menggunakan body loofah (sikat tubuh) kemudian dibilas berkali-kali. Semua aktivitas ini dilakukan sambil duduk di kursi kecil (dengklek) yang menurut saya sangat nyaman untuk membersihkan keringat, daki dan kulit kering yang menempel di badan.Setelah itu barulah diperbolehkan untuk masuk berendam ke dalam bak mandi.Orang Jepang biasanya mandi, keramas, sikat gigi dan ganti pakaian dalam, sehari sekali yang dilakukan pada malam hari sebelum tidur.Pada saat awal saya tiba di Jepang (pada musim dingin), karena tidak terbiasa mandi malam, saya mandi pada sore hari seperti kebiasaan umum orang Indonesia.Hasilnya meskipun kamar saya dilengkapi dengan pemanas ruangan, saya masih tidak bisa tidur karena kedinginan. Setelah saya mencoba mandi di malam hari ternyata efeknya besar sekali, membuat dan menjaga suhu badan tetap hangat sehingga bisa tertidur dengan pulas.Ofuro apartment sayaSatu hal yang paling berbeda antara mandi di pemandian umum dan di rumah adalah luas bak mandi untuk berendam di rumah hanya cukup untuk satu orang saja, jadi mandi di rumah dilakukan secara bergilir. Aturannya yang mendapat giliran paling akhir bertugas membersihkan dan mengeringkan kamar mandi sedangkan yang paling awal bertugas menyiapkan tempat tidur (futon).Karena air yang digunakan di bak kamar mandi bukan air yang mengalir terus menerus seperti di pemandian umum, yang berarti orang yang mendapat giliran mandi ke dua akan berendam di bak mandi dengan air yang sama, jadi badan harus dibersihkan sebersih mungkin sebelumnya. Setelah bersih barulah masuk dan berendam di dalam bak mandi. Jadi bak mandi hanya berfungsi sebagai tempat berendam dan menaikkan suhu badan saja. Setelah merasa hangat badan dibilas dengan air shower sekali lagi dan aktifitas mandi yang disebut ofuro inipun berakhir.Mengenai urutan siapa yang mandi paling awal dan akhir itu tidak terlalu penting dan tergantung kesepakatan saja, Biasanya anak kecil mendapat giliran paling awal karena harus tidur lebih awal dan berangkat sekolah lebih pagi.Untuk Etika mandi di pemandian umum hampir sama dengan mandi di rumah, hanya saja pada saat masuk ke dalam kolam, handuk kecil yang kita bawa yang berfungsi sebagai penutup tubuh tidak boleh ikut sampai terendam jadi ditaruh di batu pinggir kolam atau melipatnya dan ditaruh di atas kepala. Bermain air, berenang dan mencuci handuk yang dibawa adalah dilarang.Pemandian Umum (sumber youinjapan)Anak-anak di pemandian umum (sumber gol)Pemandian umum sebetulnya bukan hanya berfungsi sebagai tempat mandi saja tapi juga sebagai tempat rekreasi, penyembuhan dan sosialisasi antar teman, atasan dengan bawahan atau dengan relasi. Bukan pemandangan yang aneh kalau sesekali melihat seseorang menggosok punggung orang lain. Biasanya dilakukan oleh bawahan terhadap atasannya atau anggota keluarga yang lebih muda pada anggota keluarga yang lebih tua.

Continue reading »

Omikuji

Liburan GW (Golden Week), saya jalan2 di Osu Nagoya, dan menyempatkan berkunjung ke kuil Osu Kannon sekalian mengambil omikuji. Apakah sahabat KdJ tahu apa itu omikuji dan pernah mencobanya?Omikuji adalah kertas ramalan yang menceritakan ramalan kita di masa yang akan datang, ramalan ini biasanya berupa keberuntungan, karir di masa yang akan datang, keluarga, kesehatan, waktu yang tepat untuk bepergian, dan sebagainya. Di kuil ini biasanya ada laci-lacikotak yang tersimpan omikuji, hanya memasukkan uang 200 yen (dulu 100 yen), ke "kotak amal" lalu kita mengambil ambil kertas di dalam kotak. Di kertas tersebutlah kita dapat baca apa yang jadi ramalan kita di masa yang akan datang.Pada dasarnya isinya terbagi menjadi大吉 - Daikichi - Excellent luck (biasanya orang jepang langsung pergi judi atau beli lotre)吉 - Kichi - Good luck中吉 - Cyukichi - Fair luck小吉 - Syokichi - A little luck半吉 - Hankichi - Semi-good luck末吉 - Suekichi - Uncertain luck末小吉 - Suekokichi - Uncertain but a little luck凶 - Kyou - Bad luck (Misfortune)小凶 - Syokyou - A little misfortune半凶 - Hankyou - semi-misfortunate末凶 - Suekyou - Uncertain misfortune大凶 - Daikyou - Certain disaster (consider buying a karmic life insurance policy)Kalau mendapatkan ramalan baik, biasanya dibawa pulang. Kalau tidak baik diikat di pohon atau pilar kuil, yang kemudian pada awal tahun akan dibakar oleh pendeta kuil. Orang Jepang percaya bila dibakar ketidak beruntungan mereka akan musnah.Saya mendapatkan 末吉 Suekichi (uncertain luck), jadi saya ikat saja omikuji saya. :)

Continue reading »

Tata krama membunyikan klakson di Jepang

KLAKSON bisa disebut sebagai perlengkapan standar. Dengan maksud agar Anda lebih nyaman dalam berkendaraan. Tentu saja, penggunaan klakson amat berkait dengan sopan santun di jalan. Di Jepang, Eropa, atau Amerika, jarang sekali orang menggunakan klakson.Coba perhatikan saat Anda sedang berada di jalanan Jepang, pasti jarang terdengar klakson kendaraan. Padahal, jalanannya cukup macet.Kenapa ya? Tingginya rasa solidaritas, disiplin berlalu lintas memang faktor utama, dan memang disebagian wilayah seperti rumah sakit, pemukiman penduduk, sekolah dll, klakson sangat dilarang dibunyikan.Orang Jepang hanya menggunakan/membunyikan klakson bila :Di traffic light ketika lampu sudah hijau tetapi kendaraan di depan tidak menyadarinya, maka sebagai pengingat mereka membunyikan klakson.Saat di situasi yang dianggap membahayakan, seperti ada pengendara ugal-ugalan.Sebagai ucapan terima kasih ketika diberi jalan (hanya di sebagian wilayah di Jepang).Jadi meskipun macet, sangat tidak dianjurkan membunyikan klakson di Jepang, harus sabar menunggu. Kalau terlanjur membunyikan klakson, siap-siap saja mendapat makian atau dianggap orang tak punya santun.Semacet ini orang tetap sabat menungguKota yang bersih dari sampah, jalanan yang tertib kendaraan dan jarang suara klakson terdengar, membuat Jepang begitu nyaman untuk dikunjungi.

Continue reading »

PENDIDIKAN ANAK ALA JEPANG

Rahasia Pendidikan TK, SD, dan Daycare di Jepang[Bisa Langsung Ditiru dan Dipraktekkan]Suatu hari, saya dan seorang kawan mengantri di sebuah stasiun di kota Nara-Jepang. Tiba-tiba, kawan saya tersebut berseru sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah deretan panjang warga Jepang yang sedang berdiri mengantri sambil membaca buku.Kita masyarakat beragama. Kita memiliki ayat dalam kitab suci yang memerintahkan kita untuk membaca. Lalu, kenapa malah mereka (masyarakat Jepang) yang notabene tidak beragama, justru yang gemar membaca? Seharusnya kita bisa lebih baik dari mereka.Pertanyaan itu terus menghantui saya. Benar juga apa yang ia katakan. Kita memiliki aturan dan perintah untuk membaca dalam kitab suci. Namun, justru kebanyakan dari kita jarang mengamalkannya. Sedangkan masyarakat Jepang yang bisa dikatakan tidak beragama, justru mengamalkan ajaran-ajaran dari kitab suci kita. Tak hanya ajaran untuk membaca, namun juga ajaran dalam menjaga kebersihan, kedisiplinan, ketertiban, hingga menjaga kenyamanan orang lain. Orang Jepang lebih mengamalkan ajaran-ajaran itu ketimbang kita.... (dikutip dari halaman 84). Lalu, adakah yang kurang tepat pada pendidikan di negara kita? Khususnya pendidikan anak, di mana karakter manusia dewasa terbentuk sejak anak-anak. Temukan berbagai rahasia pendidikan anak di Jepang dalam buku ini. Rahasia yang sebenarnya sangat mudah kita tiru dan terapkan di sekolah, daycare, maupun di rumah kita. Testimoni: "...Buku yang sangat luar biasa. Saya banyak belajar dari buku ini. Karena saya juga mengagumi sistem pendidikan di Jepang. Semoga bisa menjadi pencerahan bagi para orang tua dan pendidik di Indonesia…” (Kak Seto, Tokoh Pemerhati Anak) Buku ini membeberkan nilai-nilai positif dari pendidikan masyarakat Jepang yang bisa kita tiru bersama. Memang tidak semua budaya mereka sempurna. Namun, apabila kita bisa mengambil nilai-nilai positif yang mereka miliki, bukanlah mustahil kita bisa menjadi bangsa yang jauh lebih besar dan berakhlak mulia. (Dr. Berry Juliandi - Alumnus NAIST Jepang, Dosen IPB dan Chief and Editor Hayati Journal) Penulis : Saleha Juliandi, M.Si & Juniar Putri, S.Si ISBN : 978-602- 1277-195 Tebal Buku : 200 halamanBagi yang ingin pesan buku ini bisa contact ke alamat emaillayanankdj@gmail.com

Continue reading »